UPDATESATU.COM – Akhlak dipandang penting dalam timbangan berbagai fenomena, aksesibilitas serta keindahan berkehidupan dunia.
Beberapa poin berikut bukan sekedar timbangan, namun juga perbandingan dari keunggulan akhlak. Ulasan meski deskriptif namun menunjukkan urgensi akhlak dalam meniti kehidupan.
Etika/aturan Perang
Para prinsipnya, setiap tentara atau katakan pihak yang terlibat langsung dalam perang mengetahui aturan main di dalamnya.
Sejak zaman batu atau sebut masa awal terjadinya peperangan terdapat aturan yang senantiasa dipahami. Di zaman modern dalam hukum internasional misalnya melarang untuk satu di antara dua atau kedua negara yang bertikai menyerang atau menghancurkan fasilitas umum.
Para prajurit sejatinya mengetahui persis dilarang untuk menghancurkan rumah ibadah, wanita dan anak-anak. Hal ini sering kali diabaikan oleh kedua belah pihak yang terlibat peperangan.
Terhadap para pelaku perang, apakah membunuh anak-anak atau target terlarang untuk diserang, ketika dilanggar sebagqi aturan perang menjawab atau menghadirkan kepuasan dalam dirinya?
Atau puncaknya apakah yang dicari dari perang, serta apakah kepuasan seluruhnya diraih dengan berperang?!
“Mengantuknya” teknologi
Lebih tepatnya keterbatasan teknologi. Penggunaan istilah mengantuk pada dasarnya mengacu kepada keterbatasan buah teknologi berupa alat guna dan berbagai fasilitas.
Tidak pada jumlah, jenis atau bahkan sifat utamanya identik dengan keterbatasan peran, penggunaan dan eksistensi teknologi belaka.
Teknologi eksis dalam suatu sistem atau sebut paket produk dari olah pikir dan terampil manusia menjadi satu kesatuan pada saat bersamaan tatkala digunakan.
Semisal sederhana adalah teknologi lampu, selain lampu simbolik pencahayaan atau penyinaran, saat memfungsikannya (“to switch on”) secara bersama-sama alat lain mendukung berupa fungsi atau peranan masing-masing, seperti sakelar, kabel, termasuk komponen utama energi berupa aliran listrik.
Contoh lain secara spesifik terhadap poin mengantuknya teknologi sebagai kenyataan adalah dalam proses penggunaannya.
Jika produk berupa barang berupa teknologi tersebut dapat dikatakan dalam kondisi sedia seperti lampu, kabel dan sakelar dalam kondisi baik-baik saja dan siap digunakan, namun bisa jadi ada kendala pada aliran listriknya, atau ketepatan pemasangan kabel pada titik tertentu misalnya.
Tidak jarang fenomena ini ditemukan dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Terkadang menyalakan lampu harus menyetel berkali-kali untuk memastikan atau menggunakannya jika tidak ada masalah.
Keterbatasan teknologi dengan berbagai bentuk, sifat, dan fasilitasnya tetapi esensi yang melekat padanya juga caranya bereksistensi.
Menyikapi kondisi ini tidak semata antipati terhadap teknologi tetapi juga menutup kekurangan tersebut dengan bersikap sesuai tuntunan sebagai gantinya, bahkan terbaik.
Utopia Hedonisme
Hedonisme sebagai tingkatan lebih tinggi dari sekedar menikmati gemerlap dunia. Hedonisme dalam Filsafat Moral dapat dimaknai dengan hadirnya hasrat yang dipuaskan dalam diri manusia.
Hasrat ini pelampiasannya adalah melalui penyaluran bersifat keduniaan dan tidak jarang berlebihan. Sebenarnya, hedonisme tidak tepat untuk dilekatkan dengan utopia. Hedonisme akan lebih tepat jika dibuatkan dalam klasifikasi poin lain semisal patologi.
Patologi dan utopia gemerlap dunia telah sempat diulas dalam artikel-artikel sebelumnya. Persoalan yang dihasilkan dalam berkehidupan dunia tidak semata utopis atau semacam angan kosong namun juga dapat berakibat ketidaknormalan, baik dimulai dari individu, masyarakat hingga menjelma patologi dalam lingkup negara.
Ulasan kali ini lebih bersifat ujian. Terhadap “term” hedonisme atau utopia gemerlap dunia, dengan mengujinya dari lingkungan terdekat. Semisal terhadap gemerlap kekayaan, apa benar orang kaya menemukan kesejatian dalam hidupnya, atau apakah kekayaan berhasil memuaskan segala hasratnya tanpa terkecuali?
Jika belum, bukankah dia sudah cukup populer? Bukankah dia dapat mencari tahu dan menciptakan apa yang diinginkan sebagai kenyataan?! (*)